Senja itu, langit cerah tak berawan. Semburat lembayung menggantung
di langit jingga. Desiran angin musim gugur yang dingin mengiringi tiap
langkahku menuju ke sebuah taman di jantung kota Paris. Daun-daun maple
berguguran, berhamburan layaknya bintang jatuh. Jingga keemasan, seolah
menyatu dengan latar belakang langit senja. Aku mengeratkan syal yang
melingkar di leherku dan kemudian memasukan tanganku ke saku jaketku.
Aku melangkah cepat namun mantap ke tempat aku akan bertemu dengannya
sore itu.
Dia telah menanti disana. Berdiri menatap Eiffel yang berdiri gagah menantang langit senja. Dibalut dengan mantel beludru hitam, dia tampak seanggun menara yang ditatapnya. Rambutnya yang hitam selembut sutera dibiarkannya terurai, tersapu oleh hembusan angin. Sejenak aku menghentikan langkahku, menatap keindahannya, kemudian berjalan perlahan menghampirinya.
Dia telah menanti disana. Berdiri menatap Eiffel yang berdiri gagah menantang langit senja. Dibalut dengan mantel beludru hitam, dia tampak seanggun menara yang ditatapnya. Rambutnya yang hitam selembut sutera dibiarkannya terurai, tersapu oleh hembusan angin. Sejenak aku menghentikan langkahku, menatap keindahannya, kemudian berjalan perlahan menghampirinya.